KUALA LUMPUR, KlikmetroNews — Krisis kabut asap lintas batas kembali memicu aksi protes di Malaysia. Greenpeace Malaysia bersama Himpunan Advokasi Rakyat Malaysia (HARAM) menggelar aksi damai di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, Jumat, 4 September 2026.
Aksi tersebut dilakukan untuk mendesak pemerintah Indonesia membuka informasi mengenai lokasi kebakaran, hasil penyelidikan, serta kepemilikan konsesi yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang asapnya berdampak ke Malaysia.
Desak Data Perusahaan Dibuka
Dalam memorandum yang diserahkan ke KBRI, Greenpeace Malaysia dan HARAM meminta pemerintah Indonesia mengungkap peta konsesi, titik panas, data investigasi kebakaran, serta bukti yang dapat menunjukkan keterlibatan perusahaan yang memiliki hubungan dengan Malaysia.
Mereka juga meminta apabila terdapat perusahaan Malaysia yang terbukti terlibat, pemerintah Malaysia ikut melakukan penyelidikan dan mengambil tindakan sesuai hukum.
Heng Kiah Chun, Country Representative Greenpeace Malaysia, menegaskan aksi tersebut bukan dimaksudkan untuk menyalahkan Indonesia semata.
Menurutnya, informasi mengenai pihak yang bertanggung jawab harus dibuka agar proses pertanggungjawaban dapat dilakukan lintas negara.
Sementara itu, Brendon Gan, Chairman HARAM, menilai persoalan kabut asap tidak semata-mata persoalan perubahan iklim, tetapi juga berkaitan dengan penegakan hukum dan tata kelola lahan.
19 Perusahaan Sedang Diselidiki
Desakan transparansi tersebut muncul setelah pemerintah Indonesia mengumumkan penyelidikan terhadap 19 perusahaan yang memiliki konsesi dan ditemukan kebakaran di area seluas 11.047 hektare yang tersebar di tujuh provinsi.
Sebelumnya, citra satelit mengidentifikasi 42 perusahaan yang memiliki konsesi dengan potensi risiko kebakaran tinggi. Namun, nama perusahaan yang sedang diperiksa belum diumumkan kepada publik.
Data pemerintah yang dikutip Reuters juga menyebut kebakaran telah menghanguskan hampir 95.000 hektare lahan di Indonesia sepanjang Juli 2026. Sementara periode Januari-Juli, luas lahan terbakar dilaporkan mencapai sedikitnya 202.010 hektare.
Ratusan Titik Panas Terdeteksi
Ancaman kebakaran masih tinggi. Dalam pemantauan BMKG berdasarkan citra satelit polar pada 2 September 2026, terdapat 463 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan dan 264 titik di Sumatra.
BMKG memperingatkan kondisi panas dan kering masih berlangsung pada awal September sehingga potensi kebakaran hutan dan lahan tetap tinggi. Asap juga berpotensi bergerak mengikuti arah angin ke wilayah sekitar.
Khusus Kalimantan Timur, BMKG sebelumnya mencatat asap karhutla umumnya bergerak barat laut hingga timur laut, bahkan berpotensi melewati batas administratif menuju Kalimantan Utara dan Sabah, Malaysia.
Serian Malaysia Sampai Tetapkan Status Darurat
Dampak kabut asap bahkan mencapai tingkat kritis di Sarawak.
Pada 4 September 2026, Malaysia menetapkan status darurat di Distrik Serian, Sarawak, setelah indeks pencemaran udara atau API mencapai 519.
Sebagai pembanding, angka 500 merupakan ambang yang digunakan Malaysia untuk menetapkan kondisi darurat, sementara API di atas 300 sudah masuk kategori berbahaya. Status darurat diberlakukan dalam radius sekitar 20 kilometer dari wilayah Serian.
Kabut asap juga menyebabkan penutupan sekolah di sejumlah wilayah Sarawak. Pemerintah Malaysia melakukan operasi pembenihan awan atau cloud seeding sebagai salah satu upaya mengurangi dampak kabut asap.
Pemerintah RI Klaim Terus Tangani Karhutla
Di tengah meningkatnya tekanan publik Malaysia, pemerintah Indonesia menyatakan penanganan karhutla terus dilakukan.
Menteri Hukum Supratman Andi Agtas, saat berada di KBRI Kuala Lumpur pada Jumat (4/9), mengatakan pemerintah dan masyarakat Indonesia sedang bahu-membahu memadamkan kebakaran hutan dan lahan.
Ia menegaskan Presiden juga turun tangan menangani persoalan tersebut, bukan hanya karena dampaknya terhadap negara-negara ASEAN, tetapi karena Indonesia sendiri berkepentingan menghentikan bencana karhutla.
Sementara itu, pemerintah Indonesia mengerahkan operasi pemadaman udara. Reuters melaporkan hingga 53 pesawat digunakan untuk kegiatan water bombing dan operasi modifikasi cuaca dalam penanganan kebakaran di sejumlah wilayah.
Krisis Kabut Asap Kembali Jadi Persoalan Regional
Kabut asap tahun ini semakin kompleks karena berlangsung bersamaan dengan kondisi El Niño yang sangat kuat serta musim kemarau yang berat.
Data Reuters menunjukkan jumlah titik panas pada Agustus 2026 telah mencapai lebih dari 9.000, jauh di atas 5.077 titik panas pada Agustus 2015, meskipun masih di bawah rekor Oktober 2015 yang mencapai 17.302 titik.
Bagi Malaysia, persoalan ini bukan lagi sekadar masalah kualitas udara. Penutupan sekolah, gangguan aktivitas masyarakat dan status darurat di Serian menunjukkan kabut asap telah berkembang menjadi persoalan kesehatan publik dan keselamatan masyarakat.
Aksi di depan KBRI Kuala Lumpur pun memperlihatkan bahwa tekanan terhadap Indonesia tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari kelompok masyarakat sipil yang meminta transparansi, penegakan hukum dan pertanggungjawaban perusahaan. (KMN-01)












