Taheran, KMN — Hingga Minggu (23/2) Taheran menyatakan siap tempur, dan bersumpah akan melancarkan serangan balasan secara penuh bila AS melakukan serangan. Bahkan rakyat Iran ikut mendukung segala keputusan yang diambil pemerintah.
Sebagaimana diketahui Donald Trump menyatakan serangan AS ke Iran berpotensi berlangsung Sabtu (22/2), namun hal itu tidak terbukti.
Kapal Induk AS Menuju Laut Iran
Kapal induk terbaru dan terbesar milik Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Gerald R. Ford, dilaporkan kembali bergerak menuju kawasan sekitar Iran di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan.
Pengerahan kapal induk bertenaga nuklir tersebut sebagai bagian dari strategi proyeksi kekuatan Washington di kawasan Timur Tengah. Kehadiran USS Gerald R. Ford yang membawa puluhan pesawat tempur serta didukung armada kapal perusak dan kapal penjelajah dalam satu gugus tempur dinilai menjadi sinyal kuat terhadap dinamika keamanan regional.
Sinyal Strategis
Analis militer menyebut, pergerakan kapal induk bukan selalu pertanda perang terbuka, melainkan bentuk tekanan diplomatik dan deterrence (daya tangkal). Kawasan Teluk Persia dan jalur strategis seperti Selat Hormuz selama ini menjadi titik sensitif karena menjadi jalur vital distribusi energi dunia.
Ketegangan meningkat setelah berbagai isu terkait keamanan regional, program pertahanan, dan dinamika politik kawasan kembali memanas. Situasi ini membuat kehadiran armada tempur AS menjadi sorotan internasional.
Kekuatan Militer Modern
USS Gerald R. Ford (CVN-78) merupakan kapal induk generasi terbaru yang dilengkapi sistem peluncur pesawat elektromagnetik (EMALS) serta teknologi radar canggih. Kapal ini mampu mengangkut lebih dari 70 unit pesawat tempur dan helikopter dalam satu operasi penuh.
Dengan kemampuan tersebut, kapal ini tidak hanya berfungsi sebagai pangkalan udara terapung, tetapi juga pusat komando operasi laut dalam skala besar.
Dampak Geopolitik
Pengamat hubungan internasional menilai, langkah Washington ini bisa memperkuat posisi tawar dalam negosiasi politik maupun keamanan regional. Namun di sisi lain, peningkatan kehadiran militer juga berpotensi memicu respons defensif dari pihak Teheran.
Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi mengenai potensi konflik terbuka. Situasi di kawasan disebut masih berada dalam tahap manuver strategis dan diplomasi intensif. (***)












